Pengalaman Ngeband Di Masa Kecilku :)
07.05
Musik, pertama kali gue gali diri di bidang musik adalah saat kelas VII. Waktu itu gue diajak sama temen gua buat ikutan gabung sama band mereka. Tapi boro-boro main musik bro, megang alat musik aja belum pernah gimana mau gabung jadi anggota band. Namun dengan semangat anak SMP yang menggebu-gebu, maka jadilah gue ikutan gabung sama band mereka. Pada kesempatan kali ini, gue diberi kesempatan untuk mengisi posisi sebagai penggebuk, alias pemain drum atau drummer. Wih, keren banget kayaknya waktu itu, waktu dipilih sebagai pemain drum. Kayu apapun dipilih, asal sama panjang jadi juga buat stick drum ( dari pada gak ada ). Setiap satu kali dalam seminggu,
gue selalu rutin latihan band di rumah temen gue, sambil mukul-mukul lantai pake stick dari bekas kursi ( belum ada drummer yang pernah pake kan,, haha ). Temen-temen yang lain sih asik, latihannya bisa pake gitar angin ( acoustik ). Lah gue, lantai doang di gebuk-gebuk sedari tadi ( bosen juga lama-lama ). Inilah awal gue jadi anak band, hehe.
Setelah kira-kira satu bulan latihan rutin di rumah tanpa alat yang real atau asli, akhirnya tiba saatnya buat gue dan temen-temen ngeband di studio yang benar-benar studio. Waktu itu, tarif studio masih Rp 20.000, / jam-nya. Walau segitu, jaman SMP susah juga buat cari uang segitu banyak. Namun karena band kami terdiri dari 5 orang. Maka tarifnya pun dibagi menjadi 5. Setelah uang tercukupi, dengan perasaan dan semangat yang sedari tadi sudah membara. Akhirnya masuklah kami ke studio musik yang baru dibuat di dekat rumah. Dengan semangatnya gue duduk di kursi drum dan memukul-mukul apa yang selama ini gue mau pukul ( biarpun sudah rutin latihan sebulan kemarin, tidak ada skill yang gue dan teman-teman miliki ) jadilah uang kami terbuang percuma dalam latihan perdana. Latihan yang cuma ketipak ketipung gak jelas namun penuh makna ( namanya juga abg labil, haha ). Sejak saat itu, latihan mingguan kami jadi resmi berpindah ke studio musik yang asli. Yang artinya, gue harus menyisihkan uang jajan harian gue buat sokongan latihan. Gak papa lah, namanya juga kesenangan.
Ada saat dimana gue gak pernah lupa akan moment itu. Di sela-sela hari sebelum latihan, gue punya inisiatif membuat drum kreasi gue sendiri. Yaitu, berbahankan kaleng dan kayu. Alhasil, setelah drum buatan gue jadi dan gue mainin, gue pun dimarahin sama keluarga gue dirumah karena suara yang gue hasilkan adalah suara yang tidak mereka harapkan alias bising. Gue pun merasa kecewa dengan hal ini, namun semangat gue gak berhenti sampai di sini. Guepun mengalokasikan drum gue ke gunung dekat tempat gue tinggal. Dan jadilah gue mainkan drum gue di tengah hari bolong. Memang gak ada keluarga gue yang marahin gue, tapi lebih parah. Kali ini penduduk kampung yang marahin gue. Kaburpun jadi pilihan utama gue saat itu. Haha, kenangan masa lalu yang tak pernah bisa gue lupakan.
Hari demi hari, dan minggu demi minggu gue lewati bersama band gue. Lama kelamaan, gue jadi semakin mahir dalam memainkan drum. Walaupun baru bisa memukul hi-hat dan snare tanpa memainkan pedal bass drumnya. Itu suatu kemajuan besar buat gue. Saat itu lagu yang kami pelajari adalah lagu Mimpi yang sempurna dari Peterpan band yang sekarang sudah berubah nama menjadi Noah band. Lagu ini menjadi hit populer waktu itu. Dimanapun, kapanpun lagu ini selalu saja muda untuk didengarkan. Di sekolahpun, sekarang gue udah bisa pamer sama teman-teman sekolah gue. Kalo gue bisa main drum. Wihh, perasaan saat itu adalah anak yang paling berbakat di kelas. Sampai-sampai dengan percaya diri yang OD ( Over dongkrak eits, Over Dosis maksudnya ) gue mengajak teman-teman sekelas gue untuk ngeband bersama. Gue gak tau mereka bisa main musik atau nggak, yang penting gue mau pamer dulu kalo gue udah bisa mukul drum. Sesampainya di studio kamipun memulai untuk ngeband. Teman-teman gue dengan percaya dirinya memegang masing-masing alat musiknya. One, two, three... Four.... Jreng, jreng, jreng,,,, dumdum pak dumdum pak,,, smringeng smringeng,.... Ciatttt ciatt ciatt... Entah lagu apa yang dimainkan. Tidak sampai lima menit kami main, pemilik studio pun dengan muka sangarnya mengusir kami semua. kabuuuuuurrrrr. Berkat sombong itulah. Terlahir cerita band kami dikelas kepada teman-teman yang lain. Dan ceritanya sedikit banyak dikarang. He :D
Setelah sekitar 2 bulan semenjak saat itu. Gue dan teman-teman band gue ( bukan band sekolah gue ) mendapat kabar gembira, kalau akan ada parade pestival musik yang akan diselenggarakan sebulan lagi. Kamipun menjadi bersemangat untuk berpartisipasi dalam parade ini. Kamipun jadi semakin giat dalam berlatih. Jadwal latihan yang sebelumnya satu kali seminggupun dirubah menjadi kapan ada duit, langsumg latihan. Akhirnya, semua uang jajanpun dikorbankan untuk latihan. Lagu yang kami pilih adalah "Kau Auraku" dari ada band ( nama bandnya ADA Band, pada tau kan :D ). Band kami semakin lama semakin kompak. Terus dan terus latihan dengan keras, agar penampilan pertama kami ini menjadi penampilan yang memuaskan. Orang tua kamipun sekarang menjadi mendukung kegiatan kami ini. Dengan wujud membayarkan uang pendaftaran yang gak mungkin bisa kami kumpulkan sendiri dalam sebulan. Dengan ini, semangat kami semakin bertambah untuk tampil nanti.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa waktu parade semakin dekat. Latihan kami yang selama ini kami jalani masih banyak kekurangan. Di samping band kami adalah band pemula. Masing-masing dari kami hanya belajar otodidak tanpa guru khusus yg mengajarkan kami. Hanya seorang teman yang lebih tua dari kami yang kami sebut manager band yang sediki-sedikit memberi tahu dan mengenalkan cara bermain musik kepada kami. Berkat dialah band kami ini terbentuk. Berkat dia pula lah. Kami jadi tau alat-alat musik yang kami mainkan, dan berkat dialah gue jadi tau apa itu drum. Dia adalah anak SMA. Dimana dia lebih dulu tau mengenai musik dan mau mengenalkan dan menggalinya dari kami. Sekarang dia beralih profesi menjadi seorang guru+seorang DJ ( orang bilang Dije ). Oke, kembali ke cerita. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam ini adalah malam dimana kami tampil perdama di depan ribuan penggemar kami ( manggung aja belum pernah, udah punya penggemar, hebat sekali :D ). Ada hal yang sampai sekarang juga tidak bisa gue lupakan. Waktu itu berangkat, ke TKP kami mnggunakan kendaraan yang sangat terkenal dan canggih. Yaitu Truck. ????
Apanya yang canggih, canggih dari Hongkong. Truck mah buat ngangkut Tanah, Batu, Pasir dan teman-temannya. Kok malah ngangkut kami. Yaa gimana lagi. Kendaraan inilah satu-satunya yang kami punya. Waktu itu pengguna sepeda motor masih sedikit. Maklum, inikan cerita tempoe doeloe :p. Lanjut cerita, setelah lama menunggu dan sampai terkantuk-kantuk. Di panggil lah band kami. 5-Ple ( bacanya : Faiv Pel ). Dengan tidak tau malu dan tidak tau apa-apa, kami pun menaiki panggung yang tadi gue bilang. Disaksikan ribuan penggemar kami. Halaaaahh.
Penampilan perdana kami pun dimulai.
Malam kehadiran jiwa
Sambut jiwa baru~.... Dan seterusnya.
Setelah selesai dan dijepret-jepret oleh orang tua temen gue yang saat itu sudah punya camera DSLR terbaru dengan lensa 10 inch ( bohong gue, mana sanggup jaman doeloe beli gituan, haha ). Kami pun puas telah membuat fans-fans kami puas. Dan pengalaman ini pun, menjadi cerita bagi kami berlima di sekolah kami masing-masing. Dan satu hal lagi yang membuat gue berkesan adalah, hasil jepret-jepret saat kami manggung, foto bagian gue hanya topi yang gue pakai yang terlihat. Krenyesss gak tuh rasanya,,,, tottttt tott totttttttttttttttt.
Tapi gak papa lah, yang penting punya pengalaman dan bisa pamer. Haha
Sekian dulu cerita masa kecil gue. Maaf juga tulisannya acak adul. Namanya juga pemula. He
Salam
gue selalu rutin latihan band di rumah temen gue, sambil mukul-mukul lantai pake stick dari bekas kursi ( belum ada drummer yang pernah pake kan,, haha ). Temen-temen yang lain sih asik, latihannya bisa pake gitar angin ( acoustik ). Lah gue, lantai doang di gebuk-gebuk sedari tadi ( bosen juga lama-lama ). Inilah awal gue jadi anak band, hehe.
Setelah kira-kira satu bulan latihan rutin di rumah tanpa alat yang real atau asli, akhirnya tiba saatnya buat gue dan temen-temen ngeband di studio yang benar-benar studio. Waktu itu, tarif studio masih Rp 20.000, / jam-nya. Walau segitu, jaman SMP susah juga buat cari uang segitu banyak. Namun karena band kami terdiri dari 5 orang. Maka tarifnya pun dibagi menjadi 5. Setelah uang tercukupi, dengan perasaan dan semangat yang sedari tadi sudah membara. Akhirnya masuklah kami ke studio musik yang baru dibuat di dekat rumah. Dengan semangatnya gue duduk di kursi drum dan memukul-mukul apa yang selama ini gue mau pukul ( biarpun sudah rutin latihan sebulan kemarin, tidak ada skill yang gue dan teman-teman miliki ) jadilah uang kami terbuang percuma dalam latihan perdana. Latihan yang cuma ketipak ketipung gak jelas namun penuh makna ( namanya juga abg labil, haha ). Sejak saat itu, latihan mingguan kami jadi resmi berpindah ke studio musik yang asli. Yang artinya, gue harus menyisihkan uang jajan harian gue buat sokongan latihan. Gak papa lah, namanya juga kesenangan.
Ada saat dimana gue gak pernah lupa akan moment itu. Di sela-sela hari sebelum latihan, gue punya inisiatif membuat drum kreasi gue sendiri. Yaitu, berbahankan kaleng dan kayu. Alhasil, setelah drum buatan gue jadi dan gue mainin, gue pun dimarahin sama keluarga gue dirumah karena suara yang gue hasilkan adalah suara yang tidak mereka harapkan alias bising. Gue pun merasa kecewa dengan hal ini, namun semangat gue gak berhenti sampai di sini. Guepun mengalokasikan drum gue ke gunung dekat tempat gue tinggal. Dan jadilah gue mainkan drum gue di tengah hari bolong. Memang gak ada keluarga gue yang marahin gue, tapi lebih parah. Kali ini penduduk kampung yang marahin gue. Kaburpun jadi pilihan utama gue saat itu. Haha, kenangan masa lalu yang tak pernah bisa gue lupakan.
Hari demi hari, dan minggu demi minggu gue lewati bersama band gue. Lama kelamaan, gue jadi semakin mahir dalam memainkan drum. Walaupun baru bisa memukul hi-hat dan snare tanpa memainkan pedal bass drumnya. Itu suatu kemajuan besar buat gue. Saat itu lagu yang kami pelajari adalah lagu Mimpi yang sempurna dari Peterpan band yang sekarang sudah berubah nama menjadi Noah band. Lagu ini menjadi hit populer waktu itu. Dimanapun, kapanpun lagu ini selalu saja muda untuk didengarkan. Di sekolahpun, sekarang gue udah bisa pamer sama teman-teman sekolah gue. Kalo gue bisa main drum. Wihh, perasaan saat itu adalah anak yang paling berbakat di kelas. Sampai-sampai dengan percaya diri yang OD ( Over dongkrak eits, Over Dosis maksudnya ) gue mengajak teman-teman sekelas gue untuk ngeband bersama. Gue gak tau mereka bisa main musik atau nggak, yang penting gue mau pamer dulu kalo gue udah bisa mukul drum. Sesampainya di studio kamipun memulai untuk ngeband. Teman-teman gue dengan percaya dirinya memegang masing-masing alat musiknya. One, two, three... Four.... Jreng, jreng, jreng,,,, dumdum pak dumdum pak,,, smringeng smringeng,.... Ciatttt ciatt ciatt... Entah lagu apa yang dimainkan. Tidak sampai lima menit kami main, pemilik studio pun dengan muka sangarnya mengusir kami semua. kabuuuuuurrrrr. Berkat sombong itulah. Terlahir cerita band kami dikelas kepada teman-teman yang lain. Dan ceritanya sedikit banyak dikarang. He :D
Setelah sekitar 2 bulan semenjak saat itu. Gue dan teman-teman band gue ( bukan band sekolah gue ) mendapat kabar gembira, kalau akan ada parade pestival musik yang akan diselenggarakan sebulan lagi. Kamipun menjadi bersemangat untuk berpartisipasi dalam parade ini. Kamipun jadi semakin giat dalam berlatih. Jadwal latihan yang sebelumnya satu kali seminggupun dirubah menjadi kapan ada duit, langsumg latihan. Akhirnya, semua uang jajanpun dikorbankan untuk latihan. Lagu yang kami pilih adalah "Kau Auraku" dari ada band ( nama bandnya ADA Band, pada tau kan :D ). Band kami semakin lama semakin kompak. Terus dan terus latihan dengan keras, agar penampilan pertama kami ini menjadi penampilan yang memuaskan. Orang tua kamipun sekarang menjadi mendukung kegiatan kami ini. Dengan wujud membayarkan uang pendaftaran yang gak mungkin bisa kami kumpulkan sendiri dalam sebulan. Dengan ini, semangat kami semakin bertambah untuk tampil nanti.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa waktu parade semakin dekat. Latihan kami yang selama ini kami jalani masih banyak kekurangan. Di samping band kami adalah band pemula. Masing-masing dari kami hanya belajar otodidak tanpa guru khusus yg mengajarkan kami. Hanya seorang teman yang lebih tua dari kami yang kami sebut manager band yang sediki-sedikit memberi tahu dan mengenalkan cara bermain musik kepada kami. Berkat dialah band kami ini terbentuk. Berkat dia pula lah. Kami jadi tau alat-alat musik yang kami mainkan, dan berkat dialah gue jadi tau apa itu drum. Dia adalah anak SMA. Dimana dia lebih dulu tau mengenai musik dan mau mengenalkan dan menggalinya dari kami. Sekarang dia beralih profesi menjadi seorang guru+seorang DJ ( orang bilang Dije ). Oke, kembali ke cerita. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam ini adalah malam dimana kami tampil perdama di depan ribuan penggemar kami ( manggung aja belum pernah, udah punya penggemar, hebat sekali :D ). Ada hal yang sampai sekarang juga tidak bisa gue lupakan. Waktu itu berangkat, ke TKP kami mnggunakan kendaraan yang sangat terkenal dan canggih. Yaitu Truck. ????
Apanya yang canggih, canggih dari Hongkong. Truck mah buat ngangkut Tanah, Batu, Pasir dan teman-temannya. Kok malah ngangkut kami. Yaa gimana lagi. Kendaraan inilah satu-satunya yang kami punya. Waktu itu pengguna sepeda motor masih sedikit. Maklum, inikan cerita tempoe doeloe :p. Lanjut cerita, setelah lama menunggu dan sampai terkantuk-kantuk. Di panggil lah band kami. 5-Ple ( bacanya : Faiv Pel ). Dengan tidak tau malu dan tidak tau apa-apa, kami pun menaiki panggung yang tadi gue bilang. Disaksikan ribuan penggemar kami. Halaaaahh.
Penampilan perdana kami pun dimulai.
Malam kehadiran jiwa
Sambut jiwa baru~.... Dan seterusnya.
Setelah selesai dan dijepret-jepret oleh orang tua temen gue yang saat itu sudah punya camera DSLR terbaru dengan lensa 10 inch ( bohong gue, mana sanggup jaman doeloe beli gituan, haha ). Kami pun puas telah membuat fans-fans kami puas. Dan pengalaman ini pun, menjadi cerita bagi kami berlima di sekolah kami masing-masing. Dan satu hal lagi yang membuat gue berkesan adalah, hasil jepret-jepret saat kami manggung, foto bagian gue hanya topi yang gue pakai yang terlihat. Krenyesss gak tuh rasanya,,,, tottttt tott totttttttttttttttt.
Tapi gak papa lah, yang penting punya pengalaman dan bisa pamer. Haha
Sekian dulu cerita masa kecil gue. Maaf juga tulisannya acak adul. Namanya juga pemula. He
Salam
Bagus gan artikelnya. Pengalamanya sama kayak ane dulu.
BalasHapusThanks ya bro :)
BalasHapus